Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menegaskan, pembatasan pembelian gula di ritel modern dilakukan bukan karena stok yang kosong, melainkan sebagai upaya pemerataan distribusi, agar seluruh masyarakat dapat memenuhi kebutuhan gulanya.

“Pembatasan pembelian gula ini bukan artinya kosong. Saya mau garis bawahi ya, pembatasan itu bukan berarti (stok) kita kosong barang, tetapi untuk pemerataan. Supaya seluruh masyarakat bisa rata membeli, tanpa mengalami kekosongan barang atau kehabisan. Kalau belinya banyak kan bisa barang habis,” kata Roy kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/5/2024).

Selain itu, Roy menyebut diberlakukannya pembatasan pembelian gula dilakukan untuk mengurangi tindakan merugikan dari para spekulan. Sebab, ada saja masyarakat yang membeli gula di ritel modern sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET), namun dijual lagi ke konsumen dengan harga yang tinggi.

“Kita kan di ritel taat regulasi, dan kita bisa memastikan kalau kita mengikuti HET, sehingga dimanfaatkan oleh potensi-potensi spekulan dalam mengambil keuntungan,” katanya.

Harga gula di pasar terus meningkat tajam. Bahkan, selesai Ramadan dan Lebaran pun harga gula masih melangit. Alhasil, beberapa ritel modern melakukan pembatasan pembelian gula.

Sebagai catatan, data Panel Harga Badan Pangan menunjukkan, harga gula konsumsi secara rata-rata bulanan pada April 2023 masih di Rp14.400 per kg. Namun di April 2024 ini melambung ke Rp18.040 per kg.

Kenaikan harga ini terus berlangsung, terutama sejak pemerintah menaikkan harga acuan gula di tingkat konsumen sebesar Rp1.500 per kg. Adapun, pemerintah masih menaikkan sementara HAP menjadi Rp 17.500 per kilogram. HAP ini berlaku hingga 31 Mei 2024.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Kapan Harga Gula di RI Turun? Ini Prediksinya


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *