Jakarta, CNBC Indonesia РGelombang panas atauL tengah melanda negara-negara Asia, termasuk kawasan Asia Tenggara atau ASEAN yang terletak dekat dengan lintas Khatulistiwa. Beberapa waktu lalu, suhu di sejumlah negara kawasan ini pun tercatat mencapai 40 derajat celcius.

Akibat gelombang heat wave itu, dalam sepekan terakhir, harga batu bara terbang sekitar 8%. Hal tersebut mendongkrak permintaan akibat peningkatan penggunaan listrik untuk pendingin ruangan.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan Senin (6/5/2024) harga batu bara acuan ICE Newcastle menguat 0,38% di level di US$ 145,95 per ton. Kendati menguat, harga batu bara belum mampu menembus level US$ 150 per ton.

Lalu, apakah permintaan ekspor batu bara RI meningkat? Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengakui selama kuartal I 2024, terdapat peningkatan permintaan batu bara RI dari negara tetangga dan Asia. Peningkatan permintaan batu bara ini terefleksi dari peningkatan jumlah ekspor ke Vietnam, India dan China.

“Dari yang saya pahami, Vietnam meningkatkan impor batu bara, gas bahkan listrik untuk memastikan tidak terjadi shortage energi seperti tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena kekeringan yang membuat performa PLTA di bawah kapasitas,” kata dia kepada CNBC Indonesia, Selasa (7/5/2024).

Sementara itu, ia memproyeksikan produksi batu bara RI pada kuartal II tahun ini berpotensi melonjak. Hal tersebut ditunjang oleh cuaca yang relatif lebih kering dibandingkan kuartal I.

“Secara kuantitatif rata-rata peningkatan produksi dan ekspor Indonesia lebih tinggi sekitar 4-5% dibanding kuartal satu berdasarkan data Modi dan BPS selama 5 tahun terakhir,” tambahnya.

Terpisah, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Bidang Tata Kelola Minerba Kementerian ESDM Irwandy Arif mengatakan hingga kini pihaknya belum mempunyai data mengenai permintaan batu bara dari Filipina, Thailand, dan India.

Namun, dia memastikan bahwa suatu perubahan pembelian tiba-tiba biasanya jarang terjadi. Kecuali terdapat kejadian yang sangat istimewa. “Kenaikan harga batu bara saat ini belum signifikan. Kemungkinan masih naik turun tapi tidak signifikan,” kata dia.

Sebelumnya S&P Global menjelaskan kenaikan harga batu bara ditopang oleh proyeksi permintaan batu bara di China dan India. Permintaan dari China kemungkinan akan naik karena meningkatnya permintaan (energi) setelah libur Hari Buruh.

“Pembangkit listrik di India juga diperkirakan akan melanjutkan pembelian dari luar negeri karena suhu udara diperkirakan akan melonjak,” tulis S&P Global dalam Market Movers Asia May 6-10: Singapore Coking Coal Conference in focus; Chinese market reopens after Labor Day holidays, dalam website resmi mereka.

Seperti diketahui, kawasan Asia terutama ASEAN dilanda gelombang panas. Gelombang panas (heat wave) yang melanda Asia saat ini bisa menjadi salah satu berkah batu bara. Permintaan batu bara melonjak tajam karena penggunaan listrik meningkat drastis untuk pendingin ruangan.

Adapun, sejumlah negara Asia saat ini tengah berjuang menghadapi gelombang panas. Di antaranya adalah Thailand, Filipina, Myanmar, hingga India. Negara-negara tersebut masih mengandalkan pembangkit batu bara untuk menghasilkan listrik.

India mengandalkan 75% produksi listrik dari batu bara sementara Vietnam sekitar 55%, Myanmar sebesar 50%, dan Filipina sekitar 58%.

India juga bersiap menghadapi musim panas Pemerintah India memperkirakan permintaan listrik akan mencapai puncak pada musim panas April-Juni. Permintaan listrik diperkirakan akan menembus 250 Giga Watt (GW). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pada puncak musim panas tahun lalu pada September 2023 yakni 243 Gw.

Untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan listrik dan batu bara di pembangkit, pemerintah India sudah meminta pembangkit untuk mengimpor batu bara lebih awal.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Bukan Gelombang Panas, BMKG Ungkap Penyebab Fenomena Suhu Panas di RI


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *