Jakarta, CNBC Indonesia – Rusia telah memerintahkan militernya untuk mengadakan latihan senjata nuklir. Hal ini diambil saat Moskow masih memiliki hubungan yang panas dengan negara-negara Eropa soal Ukraina.

Mengutip The Guardian, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukan dari distrik militer Selatan akan melakukan persiapan dan penggunaan senjata nuklir non-strategis.

“Latihan tersebut dimaksudkan untuk menjamin integritas wilayah dan kedaulatan negara Rusia tanpa syarat. Latihan tersebut juga akan melibatkan pasukan dari angkatan udara dan angkatan laut Rusia,” kata kementerian tersebut, Senin (6/4/2024).

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengatakan bahwa Rusia akan mengembangkan rudal jarak menengah dan pendek baru. Moskow mengeklaim bahwa keputusan tersebut dipicu oleh laporan bahwa AS memindahkan sistem rudal serupa ke Eropa dan kawasan Asia-Pasifik.

Manuver ini diambil setelah komentar Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengenai pasukan Barat yang bertempur di Ukraina dan dari Menteri Luar Negeri Inggris. David Cameron, tentang penggunaan senjata yang dipasok Inggris agar Ukraina bisa melawan Rusia.

“Beberapa waktu yang lalu Anda dan saya menyaksikan tahap peningkatan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang diprakarsai oleh presiden Prancis dan menteri luar negeri Inggris,” timpal Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin.

Peskov menambahkan bahwa latihan tersebut dipicu oleh pernyataan Macron, serta pejabat Inggris dan Amerika Serikat (AS), yang telah berbicara tentang potensi pengiriman pasukan ke Ukraina.

“Mereka telah berbicara tentang kesiapan dan bahkan niat untuk mengirim kontingen bersenjata ke Ukraina; yaitu menempatkan tentara NATO di depan pasukan Rusia.”

Macron, mengatakan ia tidak mengesampingkan kemungkinan pengiriman pasukan ke Ukraina. Di sisi lain, Cameron mengatakan bahwa terserah pada Kyiv bagaimana negara tersebut menggunakan senjata Inggris, termasuk terhadap sasaran di Rusia.

Duta Besar Inggris, Nigel Casey, dan mitranya dari Prancis di Moskow dipanggil oleh Kremlin pada hari Senin. Ini untuk mendapatkan nota protes atas pernyataan Cameron bahwa Ukraina mempunyai hak untuk menggunakan senjata Inggris untuk menyerang di wilayah Rusia.

“Casey diperingatkan bahwa sebagai respons terhadap serangan Ukraina di wilayah Rusia dengan senjata Inggris, setiap fasilitas dan peralatan militer Inggris di wilayah Ukraina dan luar negeri dapat menjadi sasaran,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.

“Duta Besar diminta untuk merenungkan konsekuensi bencana yang tak terelakkan dari langkah-langkah permusuhan yang dilakukan London. Kami juga meminta London segera membantah pernyataan-pernyataan provokatif yang bersifat agresif dari kepala Kementerian Luar Negeri dengan cara yang paling tegas dan tidak ambigu.”

Seorang pejabat pemerintah Ukraina menolak pernyataan Kremlin dan menyebutnya sebagai “pemerasan nuklir”. Mereka mengaku hal ini sudah biasa dilontarkan Moskow.

“Kami tidak melihat sesuatu yang baru di sini, kecuali dampak informasi dan pernyataan… Pemerasan nuklir adalah praktik yang terus-menerus dilakukan rezim Putin,” Andriy Yusov, juru bicara intelijen Ukraina, mengatakan kepada TV nasional.

Ketegangan antara Barat dan Moskow terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melancarkan serangan ke Ukraina pada 24 Februari lalu. Serangan ini didasari oleh pandangan Kremlin yang melihat Kyiv tak menaati Perjanjian Minsk 2014 untuk memberikan status otonomi khusus bagi Donetsk dan Luhansk di Ukraina Timur. Ini mendorong Moskow mengakui dua wilayah itu sebagai negara yang terpisah.

Selain itu, Putin juga mengatakan serangan ini ditujukan untuk memaksa Kyiv agar tidak bergabung kepada rival militer Rusia, NATO. Di sisi lain, Ukraina menyebut serangan ini tidak beralasan.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Putin Buka-bukaan Kapan Rusia Gunakan Senjata Nuklir di Ukraina


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *