Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesian Petroleum Association (IPA) mengungkapkan kenaikan harga minyak mentah belakangan ini belum banyak berdampak bagi aktivitas hulu migas di Indonesia. Pasalnya, naiknya harga minyak juga turut berdampak pada melonjaknya biaya produksi migas.

Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong menjelaskan dari sisi hulu, kenaikan harga minyak memang membuat keekonomian lapangan migas terbantu. Namun hal tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba.

“Mengapa? Karena kami melihat adanya tren cost yang naik, harga minyak kan dalam penjualannya tetapi harga proyek juga naik jadi mem-balance itu merupakan challenge kita,” ujar dia usai Press Conference Road to IPA Convex 2024, Selasa (7/5/2024).

Oleh sebab itu, menurut Marjolijn saat ini perusahaan migas terus berupaya melakukan efisiensi sekalipun harga minyak mentah mengalami kenaikan. “Kalian kan tahu bahwa kalau proyek bisa dipercepat keekonomian lebih bagus. Kalau makin lama cost nya bisa gede. Nah itu salah satu yang jadi tugas kita,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah dunia kembali naik setelah kondisi di wilayah Timur Tengah kembali memanas. Israel kembali menyerang Gaza, sementara perundingan gencatan senjata masih terus berlanjut.

Pada pembukaan perdagangan hari ini Selasa (6/5/2024) pada pukul 08.00 WIB, harga minyak mentah WTI dibuka menguat 0,61% di posisi US$78,96 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent dibuka lebih tinggi atau naik 0,50% di posisi US$83,75 per barel.

Sementara pada perdagangan Senin (5/5/2024), harga minyak mentah WTI ditutup terapresiasi 0,47% di posisi US$78,48 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent melesat 0,45% ke posisi US$83,33 per barel.

Harga minyak naik pada perdagangan Selasa pagi setelah Israel menyerang Rafah di Gaza sementara negosiasi gencatan senjata dengan Hamas berlanjut tanpa resolusi.

Sedangkan, harga minyak naik tipis pada perdagangan Senin, membalikkan sebagian penurunan pada minggu lalu di mana kedua kontrak mencatat penurunan mingguan tertajam dalam tiga bulan, karena fokus pada data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lemah dan kemungkinan waktu penurunan suku bunga AS oleh The Federal Reserve (The Fed).

Kelompok militan Palestina Hamas pada hari Senin menyetujui proposal gencatan senjata di Gaza dari para mediator, namun Israel mengatakan persyaratan tersebut tidak memenuhi tuntutannya dan terus melanjutkan serangan di Rafah sambil berencana untuk melanjutkan negosiasi mengenai kesepakatan.

Pasukan Israel menyerang Rafah di tepi selatan Gaza dari udara dan darat dan memerintahkan penduduk untuk meninggalkan sebagian kota, yang telah menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta pengungsi Palestina.

Kurangnya penyelesaian antara pihak-pihak dalam konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan ini telah mendukung harga, karena investor khawatir bahwa eskalasi perang regional akan mengganggu pasokan minyak mentah di Timur Tengah.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Produksi Minyak RI Ambles Terus, 2024 Gimana? Menteri ESDM: Berat!


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *