Tbilisi, CNBC Indonesia – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini pertumbuhan ekonomi dunia tetap lambat beberapa tahun ke depan. Ini tak lepas dari dampak perang hingga tren suku bunga acuan tinggi.

Demikianlah disampaikan Sri Mulyani dalam Pertemuan Tahunan Asian Development Bank (ADB) di Tbilisi, Georgia akhir pekan lalu.

“Kita telah menyaksikan bersama-sama situasi ekonomi global yang sangat menantang dalam 2 tahun terakhir. Meskipun telah menunjukkan ketahanan dan diperkirakan akan terus tumbuh, pertumbuhan ekonomi global akan tetap lambat dalam beberapa tahun ke depan,” ungkapnya.

Perang Rusia dan Ukraina belum usai meski sudah berjalan selama dua tahun. Kemudian ditambah dengan perang antara Israel dan Hammas, ketegangan di Laut Merah dan terbaru adalah antara Israel dan Iran.

“Konflik geopolitik yang terus berlanjut telah memperbaharui risiko lonjakan harga komoditas, yang mendorong kenaikan inflasi,” ujarnya.

Lonjakan inflasi direspons dengan kenaikan suku bunga acuan. Seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga atau Fed Fund Rate secara agresif dan justru menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

“Lonjakan inflasi yang baru terjadi dalam beberapa bulan terakhir serta masih kuatnya kinerja ekonomi AS telah memicu ekspektasi akan suku bunga global yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujarnya.

“Ini memicu fenomena penguatan dolar AS yang memberikan tekanan kepada negara-negara berkembang,” tegas Sri Mulyani.

Aliran modal bergerak menuju AS (capital outflow) dan mendorong depresiasi mata uang lokal negara berkembang seperti yang terjadi pada rupiah. Situasi lebih buruk dialami negara miskin karena bunga tinggi membuat utang melonjak.

“Biaya pinjaman yang lebih tinggi juga menyebabkan banyak negara menghadapi keterbatasan ruang kebijakan, karena beban utang meningkat dan kerentanan mereka terhadap tekanan utang juga meningkat,” ujarnya.

Laporan ADB mengenai Asian Development Outlook (ADO) yang dirilis pada April 2024, menunjukkan negara berkembang di Asia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang solid tahun ini, meskipun ada ketidakpastian dalam konteks global.

Pada tahun 2024 dan 2025, negara-negara berkembang di Asia diproyeksikan tumbuh sebesar 4,9%, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2023 sebesar 5,0%.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Analisa Ekonomi Global dari Sri Mulyani & Gubernur BI: Tetap Waspada!


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *