Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan akan mewaspadai kenaikan BI Rate menjadi 6,25% kepada APBN. Dia mengatakan salah satunya adalah dampak kepada pembiayaan.

“Kami mewaspadai bahwa sesudah Q1, terutama bulan April ini banyak berbagai dinamika yang tadi juga direspon oleh Bank Indonesia seperti kenaikan policy BI Rate dan SRBI¬†(Sekuritas Rupiah Bank Indonesia),” kata dia dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2024, Jumat, (3/5/2024).

Sri Mulyani mengatakan kenaikan BI Rate tentu akan menaikkan biaya di sektor pembiayaan atau cost of fund. Karenanya, Kementerian Keuangan akan terus mengelola sektor pembiayaan dengan bijaksana.

“Kementerian Keuangan untuk strategi pembiayaan dengan cost of fund yang cenderung mengalami kenaikan dan juga nilai tukar kita akan terus melakukan pengelolaan secara prudent,” kata dia.

Dia juga mengatakan, Kementerian Keuangan akan terus bersinergi dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia terkait dinamika global yang terjadi belakangan ini. Dengan kerja sama itu, Sri Mulyani berharap stabilitas ekonomi dalam negeri tetap terjaga, tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

“BI dari sisi moneter dan kami dari fiskal, terutama terkait pembiayaan akan saling menyesuaikan dengan perubahan kondisi yang terjadi,” katanya.

“Kami akan terus memberikan guidance kepada market agar kita tetap bisa mengelola kondisi yang memang cukup dinamis, tanpa harus mengorbankan stabilitas, momentum pertumbuhan dan kredibilitas dari instrumen fiskal maupun moneternya,”¬†sebutnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Video: APBN Surplus Rp31,3 Triliun di Awal Tahun


(dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *