Jakarta, CNBC Indonesia – Aksi unjuk rasa mahasiswa yang menunjukan solidaritas terhadap Palestina mulai menggema di seluruh dunia.

Mereka tergerak setelah Tel Aviv melancarkan serangan ke wilayah kantong Palestina, Gaza, yang saat ini telah menewaskan hingga lebih dari 34.000 warga sipil.

Secara rinci, hampir seluruh mahasiswa terus meneriakkan gerakan agar perguruan tinggi melakukan divestasi dari perusahaan yang mendukung Israel.

Apa itu divestasi dan hubungannya dengan Israel?

Mengutip situs web Cornell Law School, divestasi adalah proses di mana suatu organisasi menjual saham, aset, atau investasi lainnya karena alasan politik, etika, atau keuangan. Dalam konteks universitas, melakukan divestasi berarti menarik investasi pada perusahaan tertentu yang didanai oleh dana abadi universitas.

Divestasi telah menjadi salah satu tuntutan gerakan skala global, gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS). Ini merupakan sebuah upaya internasional yang menyerukan boikot terhadap perusahaan-perusahaan yang dituduh terlibat dalam pendudukan wilayah Palestina, perang di Gaza, dan melanggar hukum internasional.

Perusahaan yang dicatut

Sebuah investigasi yang diterbitkan oleh Program Aktivisme Ekonomi dari American Friends Service Committee (AFSC) menuliskan empat perusahaan yang terang-terangan mendukung Israel.

Perusahaan pertama yang dicatut adalah Cisco. Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) itu disebut menjalin kemitraan jangka panjang dengan Israel pada tahun 2018 untuk mengembangkan pusat kerja bersama guna membantu mengintegrasikan kota-kota kecil dan daerah terpencil ke dalam industri teknologi tinggi Tel Aviv.

Beberapa dari pusat-pusat ini setidaknya sebagian didirikan di “Palestina dan Suriah yang diduduki” seperti pendudukan Israel di Tepi Barat (Palestina) dan Dataran Tinggi Golan (Suriah) yang dipandang ilegal menurut hukum internasional.

Lalu ada Lockheed Martin, yang merupakan perusahaan militer terbesar di dunia. Perusahaan itu memasok senjata kepada pemerintah Israel.

“Selain itu, senjata tersebut terkadang diberikan kepada Israel melalui program Pembiayaan Militer Luar Negeri pemerintah AS,” demikian temuan penyelidikan AFSC.

Setelahnya, raksasa alat berat Caterpillar juga disebutkan terlibat dalam dukungan kepada Israel melalui program pembiayaan AS. Militer Israel secara rutin menggunakan bulldozer D9 Caterpillar untuk menghancurkan properti warga Palestina.

Kemudian, AFSC menemukan mesin dan tenaga listrik serta sistem mekanis yang dibuat General Electric telah diintegrasikan ke dalam jet tempur, helikopter serang, dan pesawat pengintai militer Israel.

Dampak protes pada divestasi

Christopher Marsicano, asisten profesor studi pendidikan di Davidson College di North Carolina, mengatakan divestasi ini sangat sulit dilakukan. Ini disebabkan andil atau saham perusahaan itu yang besar justru terkait dengan Israel.

Marsicano juga menambahkan bahwa divestasi mungkin tidak akan memberikan banyak dampak ekonomi terhadap dana abadi universitas atau perekonomian Israel. Namun dampak politiknya bisa lebih signifikan.

“Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyebutkan protes mahasiswa di universitas-universitas Amerika secara terbuka. Jelas bahwa protes ini telah menarik perhatian pemerintah Israel dan memberikan tekanan pada para pemangku kepentingan untuk mendukung gencatan senjata,” kata Marsicano.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Sah! Divestasi Saham Vale 14% Hingga Anies-Imin Siapkan Langkah Hukum


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *