Jakarta, CNBC Indonesia – Gelombang unjuk rasa mahasiswa pro-Palestina telah mengguncang dunia. Mereka terus menekan agar seluruh pihak di dunia menghentikan dukungannya ke Israel, yang terus menghujani wilayah kantong Palestina, Gaza, dengan rudal dan peledak.

Tercatat, aksi unjuk rasa telah menyebar di seluruh negara-negara Barat. Ini diinspirasi oleh aksi mahasiswa Universitas Columbia di New York, Amerika Serikat (AS) yang akhirnya dibubarkan polisi dengan tindakan keras.

Namun gelombang aksi justru tidak begitu terdengar di dunia Arab. Padahal, secara geografi dan budaya, Timur Tengah sangat dekat dengan Palestina.

Di wilayah ini, masyarakat Arab hanya menunjukkan kengerian mereka terhadap perang dan memberikan dukungan kepada sesama warga Arab di Gaza melalui media sosial, namun tidak memilih turun ke jalan.

Alasan relatif tenangnya kampus-kampus dan jalan-jalan di Arab berkisar dari ketakutan akan kemarahan pemerintah hingga perbedaan politik dengan Hamas, dan para pendukungnya di Iran. Muncul juga keraguan bahwa protes apa pun dapat berdampak pada kebijakan negara.

Pelajar AS dan Barat di mungkin hanya akan menghadapi penangkapan atau dikeluarkan dari kampus mereka.

Di sisi lain, konsekuensi yang lebih berat dapat menanti warga Arab yang melakukan protes tanpa izin negara.

Di Mesir, yang berdamai dengan Israel pada tahun 1979, Presiden Abdel Fattah al-Sisi sebagian besar melarang protes publik, pihak berwenang khawatir bahwa demonstrasi melawan Israel nantinya bisa berbalik melawan pemerintah di Kairo.

Pada protes yang diizinkan negara mengenai perang pada bulan Oktober, beberapa demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah. Hal ini pun memicu aksi penangkapan.

“Kita tidak bisa melihat kurangnya protes masyarakat dalam jumlah besar terhadap perang dan reaksi diam-diam di jalan-jalan Mesir jika dipisahkan dari konteks yang lebih luas yaitu tindakan keras terhadap segala bentuk protes dan pertemuan publik,” kata Hossam Bahgat, Kepala Inisiatif Mesir untuk Hak Pribadi, dilansir Reuters, Jumat (3/5/2024).

Di Lebanon, mahasiswa yang didekati Reuters pada protes kampus di Beirut menolak untuk diwawancarai. Mereka mengatakan bahwa mereka takut akan dampak dari otoritas universitas.

Sejarah kompleks Lebanon juga berperan dalam permasalahan protes masyarakat. Di Lebanon, sebagian orang menyalahkan Palestina sebagai pemicu perang saudara pada tahun 1975-90.

Di sisi lain, sebagian pihak khawatir bahwa dukungan terang-terangan terhadap Palestina mungkin akan dibajak oleh Hizbullah yang didukung Iran, yang telah melakukan baku tembak dengan Israel sejak awal konflik Gaza.

“Dunia Arab tidak bereaksi seperti Columbia atau Brown (universitas AS) karena mereka tidak mempunyai kemewahan untuk melakukannya,” kata Makram Rabah, profesor sejarah di American University of Beirut.

Selain itu, tambahnya, dengan opini publik yang sebagian besar sudah mendukung perjuangan Palestina, tidak jelas apa yang akan dicapai oleh protes-protes tersebut.

“Dinamika kekuasaan dan cara Anda mengubah persepsi publik berbeda di dunia Arab dibandingkan di AS,” katanya.

Namun, apapun alasan kurangnya protes masyarakat, sebagian masyarakat di Gaza kini membandingkan antara protes di AS dan reaksi masyarakat yang dapat mereka lihat di negara-negara Arab lainnya.

“Saya meminta mahasiswa Arab untuk melakukan apa yang telah dilakukan Amerika. Mereka seharusnya berbuat lebih banyak untuk kita daripada Amerika,” kata seorang pengungsi Palestina, Suha Al Kafarna.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Update Gaza: Korban Tembus 21 Ribu & Ada Zona Perang Baru


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *