Jakarta, CNBC Indonesia – Vietnam bagian selatan dan tengah saat ini tengah dilanda gelombang panas yang sangat parah. Akibat fenomena tersebut, ratusan ribu ikan mati di waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam selatan.

“Semua ikan di waduk Song May mati karena kekurangan air,” kata seorang warga setempat di distrik Trang Bom, yang mengidentifikasi dirinya sebagai Nghia, seperti dikutip AFP, Kamis (2/5/2024).

“Hidup kami terbalik selama 10 hari terakhir karena baunya,” ujarnya.

Gambar laporan media menunjukkan warga berperahu melintasi waduk Song May seluas 300 hektar. Terlihat bagaimana air hampir tidak terlihat sedangkan ikan-ikan mengambang karena sudah mati.




Foto udara ini menunjukkan seorang nelayan mengumpulkan ikan mati akibat pekerjaan renovasi dan kondisi cuaca panas yang sedang berlangsung dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam selatan pada tanggal 30 April 2024. Ratusan ribu ikan mati di waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam selatan , dengan laporan penduduk setempat dan media yang menyatakan bahwa gelombang panas yang brutal dan pengelolaan danau adalah penyebabnya. (Photo by AFP)Foto: Foto udara ini menunjukkan seorang nelayan mengumpulkan ikan mati akibat pekerjaan renovasi dan kondisi cuaca panas yang sedang berlangsung dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam selatan pada tanggal 30 April 2024. (AFP/STR)
Foto udara ini menunjukkan seorang nelayan mengumpulkan ikan mati akibat pekerjaan renovasi dan kondisi cuaca panas yang sedang berlangsung dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam selatan pada tanggal 30 April 2024. Ratusan ribu ikan mati di waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam selatan , dengan laporan penduduk setempat dan media yang menyatakan bahwa gelombang panas yang brutal dan pengelolaan danau adalah penyebabnya. (Photo by AFP)

Menurut laporan media, daerah tersebut tidak mengalami hujan selama berminggu-minggu dan debit air di waduk terlalu rendah. Hal itu membuat ikan tidak dapat bertahan hidup.

“Pengelola waduk sebelumnya membuang air untuk menyelamatkan tanaman di hilir,” katanya.

“Mereka kemudian mencoba merenovasi waduk, mendatangkan pompa untuk mengeluarkan lumpur sehingga ikan memiliki lebih banyak ruang dan air,” tambahnya lagi.

Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Tak lama setelah itu, banyak ikan yang mati, dan laporan media lokal menyebutkan sebanyak dua ratus ton ikan mungkin telah musnah.

Surat kabar Tuoi Tre melaporkan bahwa perusahaan yang bertanggung jawab mengelola danau tersebut telah mulai melakukan pengerukan pada awal tahun 2024. Perusahaan awalnya berencana untuk membuang air tambahan ke dalam reservoir untuk ikan.

“Tetapi karena gelombang panas yang tak henti-hentinya, investor melepaskan air ke daerah hilir sehingga menyebabkan permukaan air turun. Akibatnya, ikan mati secara massal,” lapor surat kabar tersebut.

Waduk tersebut merupakan sumber air untuk tanaman di distrik Trang Bom dan Vinh Cuu di provinsi Dong Nai. Pihak berwenang sedang menyelidiki insiden tersebut sambil berusaha mengeluarkan ikan mati dengan cepat.

“Kami berharap pihak berwenang akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki situasi ini,” kata Nghia.

Menurut peramal cuaca, suhu di provinsi Dong Nai, 100 km sebelah barat Kota Ho Chi Minh, mencapai sekitar 40 derajat Celcius pada April. Ini memecahkan rekor suhu tertinggi yang tercatat pada tahun 1998.

Suhu yang melonjak bak ‘neraka’ juga berdampak pada negara tetangga lain, Kamboja. Di mana suhu tertingginya bisa mencapai 43 derajat Celcius.

Sementara itu, di Thailand, penggunaan listrik melonjak ke rekor baru pada Selasa karena suhu di provinsi timur laut Udon Thani mencapai 44 derajat Celcius. Cuaca panas menyengat juga dilaporkan menyerang Myanmar, Bangladesh dan India.

Panas eksterm bukanlah fenomena baru. Badan Iklim Uni Eropa bahkan mencatat 2023 lalu sebagai tahun terpanas dalam sejarah manusia, karena perubahan iklim dan dorongan El Nino, peristiwa alam ketika suhu permukaan air yang lebih hangat di Samudera Pasifik Timur melepaskan panas ke atmosfer.

Pada 2023 silam, suhu global tercatat sekitar 1,48 C lebih hangat ketimbang rata-rata suhu era pra-industri tahun 1850-1900. Suhu permukaan laut juga memecahkan rekor yang membuat es di kutub lebih cepat mencair.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Tanda “Kiamat” Makin Dekat di Eropa, Ini Bukti Barunya


(sef/sef)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *