Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengakui progres pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Bauksit lebih lambat. Terutama apabila dibandingkan smelter nikel dan tembaga.

Hal tersebut juga sejalan dengan realisasi investasi di bidang hilirisasi komoditas mineral. Berdasarkan bahan paparannya, realisasi investasi untuk smelter bauksit kuartal 1-2024 hanya mencapai Rp 1,4 triliun.

Angka ini jauh rendah apabila dibandingkan dengan realisasi investasi smelter nikel yang tercatat mencapai Rp 33,4 triliun dan smelter tembaga mencapai Rp 8,4 triliun. “Memang harus jujur kita akui bahwa smelter bauksit kalah cepat dengan smelter-smelter baik tambang nikel maupun tembaga,” kata Bahlil di kantornya, Senin (29/4/2024).

Meski begitu, Bahlil mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah memacu progres pembangunan smelter bauksit. Khususnya yang berada di daerah Kepulauan Riau untuk melakukan percepatan.

“Kita sekarang lagi pacu khususnya di Kepri untuk melakukan percepatan memang benar yang disampaikan tapi bukan berarti lambat gak jalan. Kita sedang melakukan langkah-langkah strategi untuk membantu mereka,” ujar Bahlil.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mendorong pengusaha bauksit membentuk konsorsium untuk merealisasikan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter).

Hal tersebut menyusul progres pembangunan proyek smelter bauksit di dalam negeri yang hingga kini belum menunjukkan hasil signifikan lantaran terkendala pendanaan.

“Kalau memang gitu bisa enggak ada solusi, ya bergabung lah. (Bikin konsorsium) kalau bisa. Ini kan saran aja,” kata Arifin ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (2/2/2024).

Arifin membeberkan dari rencana pembangunan 12 smelter bauksit di dalam negeri, baru ada 4 smelter yang sudah beroperasi. Sisanya, sebanyak 8 proyek smelter bauksit masih dalam tahap pembangunan.

Bahkan, berdasarkan peninjauan ke lapangan, terdapat perbedaan yang sangat signifikan dengan hasil verifikator independen. Temuan di lapangan menunjukkan dari 8 proyek smelter, 7 lokasi smelter masih berupa tanah lapang.

“Walaupun dinyatakan dalam laporan hasil verifikasi ditunjukkan kemajuan pembangunan sudah mencapai kisaran antara 32% sampai 66%,” kata Arifin dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (24/5/2023).

Berikut 8 perusahaan yang hingga saat ini belum menuntaskan pembangunan proyek smelternya:

1. PT Quality Sukses Sejahtera berlokasi di Kec. Tayan Hilir, Kab. Sanggau, Kalbar dengan rencana investasi perusahaan dalam proyek ini US$ 484,3 juta.

2. PT Dinamika Sejahtera Mandiri berlokasi di Kec. Toba, Kab. Sanggau, Kalbar dengan rencana investasi US$ 1,2 miliar.

3. PT Parenggean Makmur Sejahtera berlokasi di Kec. Campaga & Cempaga Hulu, Kab. Kotawaringin Timur, Kalteng dengan rencana investasi US$ 509 juta.

4. PT Persada Pratama Cemerlang berlokasi di Kec. Meliau, Kab. Sanggau, Kalbar dengan rencana investasi sebesar US$ 474 juta.

5. PT Sumber Bumi Marau berlokasi di Kec. Marau dan Jelai Hulu, Kab. Ketapang, Kalbar dengan rencana investasi sebesar US$ 550 juta.

6. PT Kalbar Bumi Perkasa berlokasi di Kec. Tayan Hilir, Kab. Sanggau, Kalbar dengan rencana investasi US$ 1,58 miliar.

7. PT Laman Mining berlokasi di Kec. Matan Hilir Utara, Kab. Ketapang, Kalbar dengan rencana investasi US$ 1,05 miliar.

8. PT Borneo Alumina Indonesia Kab. Mempawah, Kalbar dengan rencana investasi US$ 831,5 juta.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Kecelakaan Kerja di Smelter Berulang, Pemerintah Didesak Lakukan Ini!


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *