Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara terkait harga nikel dunia yang saat ini hampir menyentuh US$ 20.000, tepatnya hingga US$ 19.675 atau setara Rp 317,8 juta per ton (asumsi kurs Rp 16.157 per US$) pada Selasa (23/4/2024).

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengungkapkan bahwa siklus naik turun harga berbagai komoditas, termasuk komoditas nikel, di dunia merupakan kejadian yang berulang dengan penyebab yang berbeda-beda.

“Siklus naik turunnya harga untuk semua komoditas mineral adalah suatu kejadian yang selalu berulang dengan penyebab tertentu dan mengarah ke supply demand dan stok yang berubah. Tentunya ini akan menyebabkan naik turunnya harga nikel,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (26/4/2024).

Walaupun tidak disebutkan secara gamblang penyebab tingginya harga nikel saat ini, Irwandy mengatakan bahwa kondisi saat ini nikel masih dibutuhkan terutama untuk produksi stainless steel dan baterai kendaraan listrik, logam paduan, dan keperluan industri pesawat.

“Nikel bagaimanapun tetap dibutuhkan. Selain untuk stainless steel, juga dibutuhkan untuk baterai kendaraan listrik, logam paduan, dan logam nikel murni untuk misalnya industri pesawat,” tuturnya.

Menurut penilaiannya, tingginya harga nikel saat ini bukan merupakan pengaruh dari penundaan persetujuan kuota nikel di Indonesia. “Analisis saya tidak ada pengaruh penentuan kuota nikel,” tegasnya.

Dengan begitu, dia juga mengatakan bahwa harga nikel yang memecah rekor harga nikel tertinggi selama 7 bulan belakangan merupakan akibat dari siklus harga yang terjadi dan bukan merupakan ‘durian runtuh’ bagi Indonesia.

“Harga saat ini yang naik sekitar US$ 19.000 per ton bukan merupakan durian runtuh, tapi akibat siklus harga yang terjadi,” tandasnya.

Seperti diketahui, harga nikel terus melesat mendekati level psikologis US$20.000 atau tertinggi sejak September 2023 atau 7 bulan terakhir. Penguatan ini terjadi seiring dengan risiko terbatasnya pasokan akibat rencana penimbunan China, larangan penggunaan produk logam Rusia, dan harga rally harga komoditas logam lainnya.

Kenaikan ini menjadikan tren positif harga nikel sepanjang 2024 dengan penguatan 18,5% membawa ke level tertinggi sepanjang tahun.

Harga nikel naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan perhatian pasar mengenai rencana pemerintah Tiongkok untuk membeli logam tersebut untuk persediaan negara memicu kekhawatiran terbatasnya pasokan, ditambah sentimen bullish pada logam dasar juga mendukung hal tersebut.

Nikel terdorong oleh sentimen di pasar bahwa penimbun Tiongkok, Badan Pangan dan Cadangan Strategis Nasional, berencana membeli nikel pig iron, bahan baku utama untuk baja tahan karat, kata sumber industri.

Larangan logam dari Rusia, salah satu pemasok utama nikel dan aluminium dunia, oleh Washington dan London juga meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan global.

Lembaga penelitian yang didukung pemerintah Tiongkok, Antaike, memperkirakan prospek logam termasuk tembaga, emas, dan aluminium akan tetap kuat karena prospek permintaan Tiongkok yang kuat dan ketidakpastian makro.

Lonjakan nikel ini bisa menjadi berkah bagi Indonesia yang merupakan produsen dan eksportir nikel terbesar di dunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor nikel pada Januari-Maret 2024 menembus US$ 3,13 miliar atau sekitar Rp 51,02 triliun. Sementara itu, ekspor nikel dan barang daripadanya menembus US$ 1,39 miliar atau sekitar Rp 22,56 triliun.

Bila digabung maka nilai ekspor serta nikel dan barang daripadanya menembus Rp 73,58 triliun. Data BPS juga menunjukkan 95% dari ekspor Indonesia mengalir ke China. Bila harga nikel terus meningkat maka nilai ekspor Indonesia tentu saja akan ikut melonjak.

Pada 2023, nilai ekspor nikel serta nikel dan barang daripadanya menembus US$ 22,11 miliar atau sekitar Rp 358,85 triliun.

Sementara itu, melansir S&P Commodity Insights, lonjakan harga nikel juga disebutkan karena dipicu oleh kekhawatiran pasokan. Kekhawatiran pasokan disebabkan oleh proses persetujuan kuota pertambangan Indonesia terhambat.

Penguatan pasar nikel Asia juga didukung oleh ketatnya pasokan pasokan MHP (mixed hydroxide precipitate) dan nikel sulfat pada kuartal pertama, ditambah dengan sentimen bullish di tengah kekhawatiran atas penundaan persetujuan kuota pertambangan Indonesia.

Secara keseluruhan, pasar nikel yang kuat di kuartal I-2024 mendukung produk lain dalam rantai nilai, termasuk nikel pig iron, sulfat nikel, dan harga MHP.

Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia, mengalami keterlambatan dalam persetujuan pertambangan awal tahun ini – yang mengakibatkan kekhawatiran pasokan dan lonjakan harga. Negara itu telah memperpanjang masa berlaku rencana pertambangan menjadi tiga tahun dari satu tahun, yang mengurangi frekuensi pengajuan kembali kuota tetapi memperlambat waktu persetujuan dan memperlambat persetujuan izin.

Meski demikian, harga nikel diperkirakan akan melemah seiring dengan pasokan bijih nikel akan bertambah secara bertahap di kuartal II-2024 seiring dengan peningkatan persetujuan kuota pertambangan Indonesia dan pengiriman dari Filipina yang pulih setelah musim monsun, yang juga dapat menekan harga nikel ke bawah.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Australia Kalang Kabut Harga Nikel & Litium Anjlok, Gara-Gara RI?


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *