Jakarta, CNBC Indonesia – Kalangan pengusaha menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini. Kondisi ini bakal berdampak pada rantai pasok industri dalam negeri karena tingginya impor bahan baku.

“Bahan baku dan penolong banyak sekali macamnya ribuan, dan masing masing jenis industri berbeda,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno kepada CNBC Indonesia, Kamis (25/4/2024).

Tingginya impor bahan baku itu bukan hanya terjadi di 1-2 sektor, melainkan merata di banyak sektor. Sayangnya tingkat ketergantungan impornya pun tergolong sangat tinggi, bahkan sampai barang-barang yang seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri pun masih harus impor.

“Contoh industri obat, kemudian makanan dan minuman bahan bakunya masih banyak diimpor, termasuk daging sapi dan seterusnya, susu bubuk 80% bahan baku susunya masih di impor, TPT (tekstil dan produk tekstil) 98% bahan baku kapas masih impor, jarum jahit saja masih impor,” kata Benny.

Tingginya ketergantungan pada bahan baku impor membuat cashflow pengusaha terganggu. Salah satu kekhawatirannya ialah banyak pelaku usaha yang tidak kuat hingga harus gulung tikar.

Seperti diketahui, Rupiah kembali melanjutkan pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) usai kejutan Bank Indonesia (BI)  yang di luar ekspektasi pasar menaikkan suku bunga acuan ke 6,25%.

Melansir Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,22% di angka Rp16.185/US$ pada hari ini (25/4/2024). Posisi ini berbanding terbalik dengan pelemahan yang terjadi kemarin (24/4/2024) sebesar 0,4%.

Sementara DXY pada pukul 15:01 WIB turun ke angka 105,67 atau turun 0,18%. Angka ini lebih rendah dibandingkan penutupan kemarin yang berada di angka 105,85.

Pengusaha memprediksi ada potensi kenaikan nilai tukar mencapai Rp 17.000/USD terjadi jika pasar dalam negeri tidak lagi menjadi pilihan utama investor.

Kondisi ini diperburuk oleh situasi ekonomi geopolitik dunia. Akibatnya, ancaman beruntun akan menghantam ekonomi Indonesia.

Namun, Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono menilai hal itu sangat bergantung pada ketahanan masing-masing pelaku usaha.

“Tergantung pengusahanya, kalau pengusahanya nggak terlalu bergantung pada valuta asing mungkin dia lebih baik, tapi kalau hutangnya banyak, itu menjadi berat, sementara ekspor-impor terganggu, kalau ada hutang dolar kan dia harus punya dolar. Kalau dolar dia harus ekspor. kalau ekspor terganggu karena logistik perang, order menurun itu menyebabkan persoalan disitu,” ujar Iwantono.

Melansir data Refinitiv, pada pembukaan pagi ini, Kamis (25/4/2024) pukul 09.00 WIB rupiah langsung dibuka merosot 0,19% menuju Rp16.180/US$, selang satu menit harga terus melemah 0,37% menembus Rp16.210/US$.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Cara Lama Ini Bisa Selamatkan RI dari ‘Kutukan’ Impor LPG


(dce/dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *