Jakarta, CNBC Indonesia – Industri tekstil dihajar berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir. Ketika gelombang impor datang tiada henti, kini industri tekstil harus menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) yang terus menguat. Hal ini bisa mengganggu ketahanan industri tekstil di dalam negeri karena banyak bahan baku yang berasal dari impor.

Melansir data Refinitiv, pada pembukaan pagi ini, Kamis (25/4/2024) pukul 09.00 WIB rupiah langsung merosot 0,19% menuju Rp16.180/US$, selang satu menit harga terus melemah 0,37% menembus Rp16.210/US$. Depresiasi pagi ini menghapus penguatan yang terjadi satu hari sebelumnya sebesar 0,40%.

“Untuk industri yang pasarnya dalam negeri atau income rupiah tentu yang paling menderita, karena input cost bahan baku dan penolong hampir 60% ada komponen USD-nya,” kata Presiden Komisaris Pan Brothers Benny Soetrisno kepada CNBC Indonesia, Kamis (25/4/2024).

Tingginya impor bahan baku menyedot arus kas perusahaan tekstil karena membutuhkan dolar AS ketika transaksi. Kondisi ini mempersulit para perusahaan yang mencoba bangkit setelah terpuruk akibat gempuran impor tekstil dan produk tekstil (TPT). Bahkan sudah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif di industri ini.

“Kalau PHK di industri TPT sudah berjalan sejak banyak-nya impor TPT dari China, sehingga pasar dalam negeri tersaingi harganya,” kata Benny yang juga Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI).

Meski demikian, memang ada dampak positif kenaikan nilai dolar AS bagi industri tekstil, utamanya bagi industri dengan fokus ekspor, namun dampaknya tidak begitu terasa.

“Sedangkan industri TPT eksportir hanya mendapatkan kelebihan kurs untuk komponen rupiahnya seperti listrik , overhead dan upah karyawan,” kata Benny.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Pengusaha Tekstil Ungkap Gelombang PHK Masih Terjadi, Ini Penyebabnya


(dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *