Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia selama ini banyak mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Singapura dan Malaysia. Kedua negara tersebut menjadi pemasok utama pemenuhan BBM di dalam negeri.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan terdapat beberapa faktor yang membuat Indonesia akhirnya memilih Singapura dan Malaysia. Salah satunya karena letak geografis yang nantinya berdampak pada biaya transportasi.

“Utamanya kalau Indonesia kan lewatnya Singapura saya kira lebih ke faktor geografis dan jarak sebetulnya karena kan nanti di dalam BBM maupun minyak mentah itu ada cost of transportation nya jadi ada biaya transportasi terus kemudian ada juga biaya-biaya lain termasuk asuransi di dalamnya itu biasanya makin jauh itu makin mahal,” ujar Komaidi kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (25/4/2024).

Menurut Komaidi, ada beberapa negara yang sebetulnya dapat memberikan produk BBM dengan harga lebih murah. Misalnya saja di Afrika, namun dengan biaya angkut ke Indonesia yang lebih mahal, ujung-ujungnya akan berdampak pada harga jual BBM yang menjadi lebih mahal.

“Seperti halnya di Amerika kan harga gas bisa US$ 3 kenapa kita gak impor kan murah kita kan sampai mendekati US$ 10 begitu ya. Itu kalau kita impor US$ 3 sampai sini bisa di atas US$ 10 sampai di Indonesia karena biaya transportasi nya terus biaya regasifikasi dan lain lain termasuk asuransi di dalamnya,” kata dia.

Terpisah, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Migas) Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Mustika Pertiwi mengungkapkan alasan dibalik Indonesia banyak mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari negara Singapura dan Malaysia.

Semula, ia menjelaskan bahwa setiap negara sejatinya memiliki kualitas dan spesifikasi BBM tertentu. Seperti halnya Indonesia yang memiliki BBM jenis Pertalite yang tidak sama spesifikasinya dengan BBM di negara lain.

Mustika mengatakan impor BBM dari negara tersebut dilakukan lantaran kedua negara itu memiliki banyak fasilitas pencampuran (blending) berbagai kualitas BBM yang diproduksi dari kilang di berbagai negara. Sehingga produk BBM yang diproduksikan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh Indonesia.

“Singapura dan Malaysia memiliki banyak fasilitas blending dan storage yang memungkinkan memblending/mencampur berbagai kualitas BBM yang diproduksi dari kilang di berbagai negara untuk memenuhi produk sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan Indonesia atau negara pembeli BBM lainnya,” kata Mustika kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (23/4/2024).

Selain Indonesia, dengan fasilitas blending dan storage yang sangat besar dan lokasi strategis, Singapura dan Malaysia juga memasok kebutuhan BBM ke negara-negara lain. Contohnya seperti negara-negara di Asia Tenggara lainnya dan Australia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, realisasi impor minyak dan gas bumi (migas) RI selama Januari-Maret 2024 mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 145,8 triliun (asumsi kurs Rp 16.200 per US$). Angka ini naik 8,13% dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang sebesar US$ 8,33 miliar.

Setidaknya impor migas pada kuartal I tersebut terdiri dari impor minyak mentah sebesar US$ 2,4 miliar dan impor hasil minyak sebesar US$ 6,6 miliar.

Berdasarkan data BPS Senin (22/4/2024), impor migas ini mencapai 16,4% dari total impor RI selama Januari-Maret 2024 yang mencapai US$ 54,89 miliar atau sekitar Rp 889 triliun. Sementara selebihnya atau US$ 45,89 miliar merupakan impor non migas.

Khusus untuk Maret 2024, impor migas RI tercatat sebesar US$ 3,33 miliar, naik 11,64% dibandingkan Februari 2024 yang sebesar US$ 2,98 miliar.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Banyak Cara RI Tekan Impor BBM, Ini Salah Satunya..


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *