Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) pada April 2024 ini telah mempertimbangkan kemungkinan risiko terburuk perang di Timur Tengah.

Sebagaimana diketahui, perang di Timur Tengah mulai memburuk seusai adanya saling serang rudal atau drone antara Iran dan Israel, serta masih panasnya konflik antara Israel dan Gaza. Konflik itu telah membuat kurs dolar menguat hingga menekan nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah terus bergerak di kisaran atas Rp 16.200 beberapa hari terakhir, karena adanya pemburukkan juga terhadap sentimen pelaku pasar keuangan terhadap masih tingginya potensi kebijakan hawkish bank sentral AS atau The Federal Reserve.

“Tentu saja kedua risiko itu berdampak pada kenaikan US Treasury yang lebih tinggi dipengaruhi juga kebutuhan penerbitan utang oleh Pemerintah AS yang lebih besar dan itu tentu saja membuat mata uang dolar mengatur dan akan tetap kuat,” kata Perry saat konferensi pers, Rabu (24/4/2024).

Terhadap konflik di Timur Tengah, pengukuran risiko itu didasari dari tiga kemungkinan, pertama ialah skenario dasar atau baseline scenario yang kemungkinannya di atas 75%, lalu risiko potensial dengan probabilitas di sekitar 50%-75%, serta risiko terburuk atau yang ia sebut tail risk dengan probabilitas terjadi di bawah 50%.

Perry mengatakan, untuk baseline scenario konflik di Timur Tengah ialah retaliasi konflik dilakukan secara terbatas dan tentu akan berdampak kepada terbatasnya potensi kenaikan harga minyak mentah dunia. Sedangkan potential risknya ialah eskalasi meningkat secara moderat, dan tail risk eskalasi konflik meluas.

“Namun, lagi-lagi baselinenya adalah tensiya retaliasinya secara terbatas yang kita juga assement dari berbagai perkembangan ini, dan tentu saja kami harus mampu antisipasi kalau eskalasinya meningkat ke stadium menengah,” ucap Perry.

Dengan pengukuran risiko itu, Perry akhirnya hari ini mengumumkan untuk menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 bps menjadi sebesar 6,25%. Kebijakan suku bunga acuan BI itu dinaikkan untuk pertama kalinya setelah sejak Oktober 2023 terus dipertahankan BI di level 6%. Alasannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi.

“Dan tentu saja berbagai risiko itu ditambah perkembangan politik membutuhkan kebijakan-kebijakan yang antisipatif, forward looking dan preemptive. Intinya memitigasi risiko potensial agar dampaknya kembali ke baseline,” tegas Perry.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Video: Perang Militer Iran Vs Israel, Siapa Bakal Hancur?


(fab/fab)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *